Habis baca tulisannya kak.cecil yang aku sendiri baru baca setelah bang.zarry hendrik ngetwit tentang kepulangannya kerumah Allah. Langsung buka twitnya, aksi kepo pun aku mulai. Dari setiap twit yang aku baca, aku menemukan rasa optimisme yang tinggi tapi saya merasa tetap ada rasa putus asa, takut, sedih. Itu sudah pasti. Saya pun akan seperti itu jika menjadi kak.cecil. terkadang kita harus tetap kuat selain buat diri kita tetapi buat orang-orang sekitar kita juga. Kita tidak ingin membuat mereka lebih sedih, kita berusaha sekuat mungkin menjaga hati mereka. Betapa berat beban kak.cecil bukan? Dari yang aku baca kak.cecil baru berusia 26tahun. She’s beautifull woman. Dia terkena kanker lidah ganas, dan berperang melawannya selama satu tahun sampai akhirnya hari ini meninggal. Aku gag tahu harus bagaimana kalau berada di posisi kak.cecil. bisakah aku tetap tersenyum seperti itu? masih bisakah aku bilang “aku baik-baik saja” berusaha tabah agar orang-orang disekitar kita tidak tambah jatuh? Bisakah saya seperti itu jika berada dalam posisinya?
Kematian. Hal yang pasti tapi selalu dihindari dalam setiap obrolan. Seperti apakah kematian itu? sakitkah? Yang saya tahu cuma sangat dan sangat sakit kehilangan orang terkasih kita berpulang kerumah-Nya. Bagaimana kalau saya yang mengalaminya. Apakah orang-orang disekitar saya juga akan merasa kehilangan? Ah, aku terlalu ngeri membayangkan kematian. Apakah kematian rasanya seperti dulu ketika saya sakit parah, demam tinggi, saya sudah tidak bisa merasakan tubuh saya. Saya hanya merasa tubuh saya semakin ringan, semakin ringan sampai saya merasa saya terangkat dari tempat tidur saya. Ya saya pernah merasakan seperti itu. saya sadar, saya tau tubuh saya menjadi semakin ringan dan ringan, saya tahu waktu itu kakak saya masuk kekamar. Tapi saya tak bisa bergerak, saya melihat kakak saya tetapi mata saya tertutup. Saya ingin menangis memanggilnya untuk memegangi tubuh saya tapi saya tak bisa bersuara. Saya tak bisa bergerak. Saya takut sekali waktu itu. Takut sekali. Sampai kakak saya berbicara seperti ini “Dek, katanya monyol mau kesini, kog malah sakit? Cepet sembuh dong. Nanti yang ngajak ngobrol siapa?”. Saya masih dan masih sangat ingat kakak saya ngomong seperti itu. Dan ajaibnya saya seperti terhempas kembali ke bumi. Saya bisa merasakan tubuh saya kembali di kasur. Saya bisa merasakan nafas saya, detak jantung saya. Dan saya sangat bahagia waktu itu meskipun saya masih merasa sangat lemah dan belum mampu berbicara. Saya kembali karena saya merasa masih punya janji dengan temen saya, monyol tadi. Ajaib. Tuhan masih menyayangi saya. Tuhan masih menghendaki saya kembali untuk menepati janji saya. Badan saya masih lemas ketika mengingat masa-masa itu. Hanya satu yang bisa saya ambil hikmahnya. Tuhan bisa memanggil hambanya kapan pun Dia mau. Siap tidak siap. Suatu saat itu pasti akan terjadi. dan satu yang dari dulu dan bahkan sampai sekarang saya sering berdoa agar saya dahulu yang Dia panggil. Ya saya dulu. Sebelum nenek saya, mamah, kakak-kakak saya, dan orang-orang yang saya cintai. Cukup sekali saya kehilangan orang yang saya cintai, nenek buyut saya. Dan saya tahu, jika saya kehilangan untuk kedua kalinya saya gag akan pernah sanggup. Saya gag akan pernah ikhlas. Saya gag tahu akan seperti apa jika itu terjadi. Saya gag ingin hidup seribu tahun lagi jika harus menyaksikan orang-orang yang saya cintai peri satu persatu. Saya cukup dan sangat kuat jika kehilangan seorang kekasih yang saya cintai, karena dalam hidup saya kekasih adalah nomor kesekian. Tidak pernah masuk dalam prioritas hidup saya. Kecuali jika dia sudah menjadi suami saya. Kalau keluarga, nomor 2 setelah Tuhan saya. Dan saya gag akan pernah sanggup untuk menjadi saksi kepergian mereka. Never. :')
ini link twitternya kak.cecil @cecilvickend dan ini link artikel tentang penyakitnya kak.cecil Kanker Lidah Kak. Cecil atau http://bit.ly/W7R1wI
0 comments:
Post a Comment